Kamis, 19 April 2018

Sejumlah Kapal Perang AS Akan ke Indonesia

⚓️ Untuk Membina Hubungan Kerjasama Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P menerima Kunjungan Kehormatan Mr. Joseph R. Donovan Jr.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P menerima Kunjungan Kehormatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa. Penuh Amerika Serikat untuk Republik Indonesia Yang Mulia Mr. Joseph R. Donovan Jr. didampingi Athan Amerika Serikat untuk Indonesia Kolonel Michael D. Spake, di ruang tamu Panglima TNI, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu 18/4/2018.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan kehormatan Dubes LBBP AS sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya beberapa waktu lalu di Markas Besar TNI.

Pada pertemuan tersebut Panglima TNI menyampaikan kunjungan kehormatan ini untuk mempererat hubungan kerjasama kedua negara dalam berbagai bidang, khususnya di bidang pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dalam kegiatan Pacific Partnership 2018 di Bengkulu.

Lebih lanjut Dubes AS Yang Mulia Mr. Joseph R. Donovan Jr menyampaikan pada masa yang akan datang dijadwalkan kunjungan sejumlah kapal perang Amerika Serikat ke Indonesia dalam rangka membina hubungan kerjasama kedua angkatan bersenjata. Sehubungan dengan rencana kehadiran kapal perang tersebut, Dubes mohon bantuan kerjasama kepada Panglima TNI untuk membantu kelancaran kegiatan kunjungan.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P pada pembicaraan selanjutnya menanggapi rencana kunjungan kapal perang AS ke Indonesia, TNI akan membantu kelancaran kunjungan tersebut agar dapat berjalan lancar dan saling menguntungkan kedua belah pihak

  ⚓️ sindonews  

TNI AL Siap Ikuti Rimpac 2018

KRI REM 331 [IMF]

Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Didik Setiyono, S.E., M.M., menerima paparan terkait kegiatan Rim of The Pacific (Rimpac) 2018 di Hawaii yang dipaparkan oleh Komandan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmatim Laksamana Pertama TNI Agus Hariadi selaku Komandan GT Latma Rimpac 2018, bertempat di ruang rapat Pangarmatim, Surabaya, Rabu (18/4).

Rimpac merupakan agenda latihan bersama Multilateral yang diikuti oleh Negara-Negara Asia Pasifik dilaksanakan setiap dua tahun di Pearl Harbour Hawaii Amerika Serikat.

Pada Rimpac kali ini, TNI Angkatan Laut mengirimkan delegasinya antara lain KRI Raden Eddy Martadinata (REM) – 331 salah satu unsur dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim dan KRI Makassar (MKS) – 590 salah satu unsur dari Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmatim.

Dalam penjelasannya dihadapan Pangarmatim, Dansatgas Rimpac 2018 menyampaikan pada pelaksanaannya nanti KRI REM – 331 akan bergabung dalam Surface Working Group dengan agenda latihan tahap laut berupa latihan formasi manuver kapal, latihan pembekalan di laut, serta latihan menembak permukaan. Sedangkan KRI MKS – 590 akan bergabung dengan Amphibious And Landing Operations Working Group sebagai sarana pengangkut dalam latihan operasi pendaratan.

Selain itu, dalam Rimpac kali ini, TNI Angkatan Laut juga mengirimkan tim Penyelam TNI Angkatan Laut yang nanti akan tergabung dalam Navy Expeditionary Combat Forces (NECF) dan 2 Tim Satkopaska yang nantinya akan tergabung dalam Special Operation Forces (SOF) Working Group dimana dalam grup ini akan melaksanakan latihan berupa Mission Planning (MP), Full Mission Profile (FMP), Photo Operations (Photo Ops), Sub Operations Familiarizations (Sub Ops Fam), Hello Cast, Leadership Synch, Dive (Selam) serta Airborne Ops (Terjun).

  ⚓️ TNI  

☆ Karel Satsuitubun

Pengawal Wakil Perdana Menteri yang Tewas oleh PKIAjun Inspektur Dua Polisi Karel Satsuitubun.(Ist) ★

Karel Satsuitubun lahir di Tual, Maluku Tenggara pada tanggal 14 Oktober 1928. Ketika telah dewasa ia memutuskan untuk masuk menjadi anggota Polri.

Ia pun diterima, lalu mengikuti Pendidikan Polisi, setelah lulus, ia ditempatkan di Kesatuan Brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi.

Ia pun ditarik ke Jakarta dan memiliki pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi. Ketika Bung Karno mengumandangkan Trikora yang isinya menuntut pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dari tangan Belanda.

Seketika pula dilakukan Operasi Militer, ia pun ikut serta dalam perjuangan itu. Setelah Irian barat berhasil dikembalikan, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr J Leimena di Jakarta. Berangsur-angsur pangkatnya naik menjadi Brigadir Polisi.

Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya. Maka PKI merencanakan untuk melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang dianggap menghalangi cita-citanya.

Salah satu sasarannya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr J Leimena. Gerakan itu pun dimulai, ketika itu ia kebagian tugas jaga pagi. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur.

Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka Karel Satsuit Tubun pun terbangun dengan membawa senjata ia mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut.

Malang, gerombolan itu pun juga menembaknya. Karena tidak seimbang Karel Satsuit Tubun pun tewas seketika setelah peluru penculik menembus tubuhnya.

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September maka pemerintah memasukannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia, bersama dengan Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Sutoyo, Mayjen D.I. Pandjaitan, Brigjen Katamso, Kolonel Sugiono dan Kapten CZI Pierre Tendean.

Selain itu pula pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi. Namanya juga kini diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Republik Indonesia dari fregat kelas Ahmad Yani dengan nama KRI Karel Satsuitubun.

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Karel dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Karel Satsuitubun di Pelabuhan Ratu dan di Ibra, Maluku Tenggara. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Karel Satsuitubun. (nag)

  sindonews  

Rabu, 18 April 2018

TNI AU Akan Bangun Pertahanan Rudal

Di TangerangIlustrasi rudal NASAMS ★

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) akan mengaktifkan kembali Satuan Rudal (Satrudal) Teluknaga, Hal ini di ungkapkan Staff Ahli Kepala Satuan Udara Kerja Sama (Kasaukersa) TNI AU Kolonel (Tex) Darsiswoko, di Pos TNI AU Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Senin (16/04/2018).

Pengaktifan ini dilakukan untuk memperkuat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Serta memberi rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat.

Menurut Staff Ahli Kasaukersa TNI AU Kolonel (Tex) Darsiswoko, pembangunan PAM Ibukota ini untuk membuat pertahanan di Indonesia menuju masa depan.

PAM ini kita bangun dimulai tahun 2019. Sebelum pembangunan dimulai, kita akan mempersiapkan pematangan lahan untuk titik-titik yang akan dibangun,” kata dia.

Dalam hal membangun PAM ini, ia akan memberi jarak batas sekitar 160 meter, dari hunian penduduk agar tidak terkena dampak dari peluruh kendali tersebut.

Kita akan menjalin koordinasi dengan pemerintah setempat,” singkatnya.

Sementara itu, Komandan Pos (Danpos) TNI AU Satrudal Teluknaga, Lettu (Tex) Supriyanto meminta kerjasamanya dari para instansi Pemerintahan, serta masyarakat agar pembangunan berjalan lancar.

Semoga aparatur Pemerintah dan warga sekitar bisa memahami dan mengerti dengan pelaksanaan pembangunan yang sedang kami kerjakan, dari awal hingga selesai,” harapnya.

Project Manager Nasam Indonesia, Janet Dyah Ekawati menjelaskan, pengadaan untuk pengamanan Ibukota memakai rudal jarak menengah National Surface For Air Missile System (NASAMS), karena menurut ia ini sistem yang sama, yang melindungi Washington DC di Amerika Serikat.

Saya kira pembangunan ini amat penting, bukan hanya mengamankan ibukota, tapi ini juga sangat penting untuk pertahanan kedepan, kita juga akan memetakan betul-betul posisi masyarakat,” taandasnya.

  Suara Nusantara  

Indonesia considers pulling out of KFX/IFX project

Indonesia is considering withdrawing from the KFX/IFX development programme with South Korea. The reasons for the potential withdrawal include financing, technology sharing, and geopolitical factors. https://3.bp.blogspot.com/-smsiyjX_O1k/WT1ebF6t4LI/AAAAAAAAKbY/340VLmpocLUGFrO-llaJYog41TqidV1RgCPcBGAYYCw/s1600/1496980790%25282%2529.jpgKFX [sheldon

The Indonesian government is contemplating withdrawing from the programme with South Korea to develop the next-generation Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) aircraft, Jane’s has learnt.

Speaking at the Defence Services Asia (DSA) 2018 exhibition in Kuala Lumpur Indonesian officials said that while the country’s involvement is currently continuing, several key issues are causing debate over whether participation should be terminated.

These issues include finances, the degree to which Indonesia is gaining “strategic technical benefits”, and what officials described as 'geopolitical factors'. Officials also indicated that Indonesia’s future participation in the programme is likely to be determined by its senior leadership, including President Joko Widodo.

One Indonesian industry source said, “Actually, money is not the main issue even though there have been some issues with this. The main factors in this decision are the technical advantages that Indonesia can get through the programme and some geopolitical factors that the Indonesian government must consider.

In reference to these geopolitical factors, the industry source mentioned “Russia, the USA, South Korea”. He did not elaborate but it is understood by Jane’s that Indonesia’s involvement in the project has been a source of concern in the US, a key supplier of KFX/IFX technologies, which is wary about the country’s long-standing military-technical ties with Russia.

In January 2018 Indonesian defence officials stated in comments to local media that there is currently a shortfall of about IDR1.85 trillion (USD140 million) that needs to be paid to South Korea in return for its involvement in the KFX/IFX programme as per finance agreements signed in 2015. Jane’s understands that Indonesia’s repayments on the programme are behind by about 40% of its agreed financial commitment.

  Janes  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...