Selasa, 25 Juli 2017

Rusia Siap Bantu Indonesia Kembangkan Sistem Keamanan Cyber

Direktur Asosiasi Ekspor Teknologi Keamanan Tinggi Rusia, Andrey Bezrukov menuturkan, pihaknya siap membantu Indonesia dalam memgembangkan sistem keamanan cyber. [Foto/Istimewa]

Direktur Asosiasi Ekspor Teknologi Keamanan Tinggi Rusia, Andrey Bezrukov menuturkan, pihaknya siap membantu Indonesia dalam memgembangkan sistem keamanan cyber. Rusia merupakan salah satu negara dengan sistem keamanan cyber terbaik di dunia.

Berbicara saat menghadiri Diskusi Meja Bundar Teknologi IT dan Keamanan Siber Rusia di salah satu hotel di bilangan Jakarta Selatan, Bezrukov mengatakan, selama ini Rusia selalu membangun sistem keamanan di negaranya secara mandiri dan mereka ingin membantu Indonesia agar bisa mencapai hal serupa.

"Sistem teknologi Rusia sangat luas. Rusia juga merupakan satu dari dua negara yang memenuhi syarat gambaran tentang teknologi siber dan teknologi IT," kata kata Bezrukov pada Senin (24/7).

"Kami selalu membangun sistem keamanan secara mandiri, sehingga kami bisa menciptakan solusi original. Yang ingin kami ajukan ke Indonesia adalah beberapa kerja sama antara lain kerja sama pengembangan sistem siber, sistem komunikasi, dan sistem big data," sambungnya.

Dia kemudian mengatakan, salah satu kerjasama yang coba dijajaki oleh Rusia dengan Indonesia dalam bidang riset teknologi. Dimana, pihaknya ingin membangun pusat riset untuk para ilmuwan dari kedua negara.

"Kami ingin mendirikan pusat riset yang mungkin akan berbasis di kampus-kampus terbaik di Indonesia, atau dari perusahaan-perusahaan. Tujuan utamanya adalah agar Indonesia bisa independen dalam hal keamanan siber," tukasnya. (esn)

 Menlu Rusia Kunjungi Indonesia Awal Agustus

Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov dilaporkan akan melakukan kunjungan kerja ke Indonesia pada awal Agustus mendatang. Di Indonesia dia akan melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi.

"Kunjungan itu dijadwalkan akan berlangsung pada 8-9 Agustus, ini akan menjadi kunjungan pertama Menteri Luar Negeri Rusia ke Indonesia setelah sekian lama," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin pada Senin (24/7).

"Saya berharap Menlu Lavrov dan Menlu Retno akan membahas isu-isu yang luas, termasuk isu-isu internasional, terkait dengan keamanan regional, integrasi ekonomi, dan juga saya berharap mereka akan membahas agenda bilateral termasuk dialog politik lebih lanjut, memperdalaman investasi ekonomi kami, kerjasama ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pendidikan," sambungnya.

Dia kemudian mengatakan, pihaknya juga berharap kedua menteri akan membahas mengenai masalah keamanan di kawasan Asia-Pasifik, termasuk memperkuat arsitektur keamanan di kawasan Asia-Pasifik.

Ketika ditanya mengenai apakah akan ada sejumlah kerjasama yang akan ditandangai dalam pertemuan tersebut. Dia menuturkan hal ini masih dalam proses pengerjaan. "Semoga ada beberapa dokumen yang akan ditandatangi," ucapnya.

"Satu poin penting lainnya akan ada inagurasi perwakilan tetap Rusia untu ASEAN, dan juga akan ada presentasi pesawat penumpang baru yang mungkin akan dihadiri oleh Lavrov," tukasnya. (mas)
 

  Sindonews  

☆ Sentot Ali Basya

Panglima Perang Diponegoro yang Dijuluki Napoleon Jawa Lukisan Sentot Ali Basya. (minanglamo) 

Di usianya yang masih belasan tahun, Sentot Ali Basya atau Sentot Ali Basya Abdullah Mustafa Prawirodirjo sudah ikut andil dalam jihad.

Ia merupakan salah satu buyut dari Sultan Hamengku Buwono I. Kakeknya ini, seorang Sultan di Kerajaan Mataram Islam sekarang dikenal dengan Yogyakarta.

Sementara itu gelar "Basya" atau "Pasha" adalah diilhami oleh gelar para panglima di Turki Utsmani. Dimana Turki di zaman itu menjadi kebanggaan Umat Islam seluruh dunia.

Sentot Ali Basya diangkat menjadi panglima perang di barisan pasukan Pangeran Diponegoro ketika berumur 17 tahun. Prestasi di umur muda ini pernah juga diperoleh seorang sahabat bernama Usamah bin Zaid yang ditunjuk untuk memimpin perang melawan Romawi.

Namun, meski pun ia masih muda ternyata mampu pula mengukir dengan tinta emas keberhasilan dalam berjihad melawan Belanda. Sampai-sampai ia digelari "Napoleon Jawa". Padahal kalau melihat zaman sekarang, anak yang berumur 17 tahu baru duduk di bangku SMA.

Sentot Ali Basya seorang panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (De Java Oorlog). Pangeran Diponegoro memimpin perang berlangsung selama lima tahun.

Perang ini dimulai tanggal 20 Juli 1825 hingga 28 Maret 1830 M. Perang ini merupakan perang Sabilillah yang bertujuan mengusir penjajah untuk menegakkan kemerdekaan dan keadilan.

Dia merupakan salah satu komandan pertempuran dari pasukan-pasukan Diponegoro. Medan pertempuran di sekitar Yogyakarta, Kedu, Bagelen, dan Surakarta.

Akan tetapi, ada daerah lain seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara, Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan, Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bonjonegoro, Tuban, dan Surabaya. Tempat-tempat ini merupakan medan gerilya untuk melakukan sabotase-sabotase terhadap Belanda.

Dalam melancarkan serangan kepada penjajah Belanda Sentot Ali Basya bersama Pangeran Diponegoro menggunakan taktik perang gerilya. Taktik perang ini senantiasa berpindah-pindah.

Demikian pula kedudukan markas besar pun tidak menetap di satu tempat. Pasukan Diponegoro ini telah memenangkan hati dan pikiran rakyat. Sehingga pasukan ini mudah bergerak serta mudah pula mendapatkan suplai logistik untuk kebutuhan pasukan.

Oleh karena itu, di sepanjang garis Yogyakarta – Solo – Madiun – Surabaya (Jurusan Timur) dan Yogyakarta – Magelang – Wonosobo – Bagelen – Banyumas (Jurusan Utara dan Barat) terdapat markas-markas pertempuran yang sebagian besar dipimpin oleh para Ulama.

Di antaranya, Kiai Mojo dari Solo, Kiai Imam Rafi’I dari Bagelen, Kiai Imam Nawawi dari Ngluning Purwokerto, Kiai Hasan Basori dari Banyumas dan masih banyak kiai-kiai yang lain.

Dalam pasukan yang dipimpim Sentot Ali Basya ada sesuatu yang unik. Ia mempunyai pasukan sebanyak 1000 orang yang menyandang senjata dan senantiasa memakai jubah dan surban. Bahkan sistem struktur pasukannya seperti pasukan Turki Utsmani.

Gerakan pasukan Diponegoro sangat cepat dan lincah karena mereka memiliki kemahiran dan keberanian yang luar biasa yang disemangati perang Sabilillah. Hal ini membuat Belanda harus mengirim banyak Jenderal, Kolonel, dan Mayor yang dikirim ke jawa. Mereka adalah Jenderal De Kock. Jenderal Van Geen, Jenderal Holsman, Jenderal Bisschof. Karena pemerintahan Belanda menganggap lamban dalam menyelesaikan perang Sabil di Jawa.

Dalam menumpas gerakan Jihad menumpas gerakan jihad di Jawa. Jenderal De Kock menggunakan berbagai macam cara. Ada yang secara frontal perang secara fisik dan ada pula halus.

Jendral De Kock menghalalkan segala cara untuk bisa menangkap para pemimpin gerakan jihad di Jawa. Diharapkan dengan pimpinannya ditangkap maka bawahannya akan ikut hancur. Bahkan, Belanda sering melakukan penghianatan ketika terjadi perundingan tidak menguntungkan pihak pemerintah Belanda.

Belanda membujuk Prawirodiningrat, Bupati Madiun. Ia adalah kakak dari Sentot Ali Basya. Agar ia mau mengajak adiknya berunding dengan Belanda. Bupati Madiun itu menerima tawaran Belanda untuk membujuk Sentot Ali Basya.

Sentot Ali Basya terlalu percaya kepada sang kakak dan lebih lagi terlalu percaya akan "Senyum" kolonialisme.

Panglima Sentot menerima tawaran Belanda, ia memasuki kota Yogyakarta dengan mendapatkan upacara militer penuh sebagai seorang jenderal tepat pada tanggal 24 oktober 1829. Sentot Ali Basya masuk perangkap Belanda, ia disergap kemudian dijadikan tawanan perang.

Kemudian Napoleon Jawa itu dipaksa Belanda untuk bertempur menghadapi Imam Bonjol. Belanda menjalankan siasat "divide et impera" politik adu domba.

Di Sumatera Barat ia gunakan kesempatan itu untuk mengadakan kontak dengan anak buah Imam Bonjol.Ia menggabungkan diri ke dalam pasukan Paderi untuk melanjutkan perang Sabil.

Namun, pada akhirnya Belanda mencium rencana itu, Sentot Ali Basya ditangkap dan dikirim ke Batavia. Di Batavia ini Gubernur Jenderal Belanda mengeluarkan beslit (surat keputusan) sebagai tawanan perang dan diasingkan ke Bengkulu.

Sumber:
★ wikipedia
★ an-najah
★ diolah dari berbagai sumber (nag,nag)

  sindonews  

Vietnam Sebut Indonesia Tembak 4 Nelayannya

Di Laut China Selatan ilustrasi kapal nelayan Vietnam (AFP)

O
toritas Vietnam mengklaim bahwa Angkatan Laut Indonesia telah menembak nelayan-nelayan Vietnam di atas sebuah kapal nelayan di perairan Laut China Selatan. Menurut otoritas Vietnam, empat nelayannya terluka dalam insiden penembakan tersebut.

Lewat situsnya, komisi pencarian dan penyelamatan provinsi Binh Dinh, Vietnam menyatakan bahwa kapal nelayan tersebut berada sekitar 132 mil laut tenggara Pulau Con Dao, Vietnam ketika para nelayan tersebut ditembak pada Sabtu (22/7) malam waktu setempat.

Menurut otoritas Vietnam seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (24/7/2017), empat nelayan Vietnam terluka akibat tembakan tersebut. Dua orang di antaranya mengalami luka-luka serius. Mereka telah dibawa ke Pulau Con Dao untuk menjalani perawatan.

Berdasarkan koordinat yang diberikan otoritas Vietnam, penembakan itu terjadi di dekat area yang oleh Indonesia kini disebut sebagai Laut Natuna Utara.

Sengketa atas hak-hak penangkapan ikan dan pengeboran minyak telah memicu ketegangan di perairan Laut China Selatan. Pemerintah China mengklaim nyaris seluruh perairan tersebut. Namun Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan juga memiliki klaim atas perairan tersebut.

Meskipun Indonesia tidak termasuk pihak yang bersengketa, namun baru-baru ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Kemaritiman mengumumkan secara resmi nama baru perairan di utara Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, yang diberi nama Laut Natuna Utara.

Deputi I Kementerian Koordinator Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno, mengatakan, pemerintah memilih nama Laut Natuna Utara berdasarkan penamaan yang telah lebih dulu digunakan industri migas untuk perairan tersebut.

"Selama ini sudah ada sejumlah kegiatan migas dengan menggunakan nama Natuna Utara dan Natuna Selatan. Supaya ada satu kejelasan dan kesamaan dengan landas kontinen, tim nasional sepakat menamakan kolom air itu sebagai Laut Natuna Utara," jelas Arif belum lama ini.

Pemerintah Indonesia, kata Arif, yakin penamaan itu tidak akan menyulut sengketa baru terkait Laut Cihna Selatan. Ia mengatakan pemerintah pun tidak berkewajiban meminta pertimbangan maupun mempublikasikan penamaan itu kepada negara-negara tetangga. (ita/ita)

 TNI AL Bantah Tembak 4 Nelayan Vietnam 

Otoritas Vietnam mengklaim TNI AL menembak empat nelayan di perairan Laut China Selatan. Kabar tersebut dibantah oleh TNI AL.

"Hari Minggu, 23 Juli 2017, pukul 19.45 WIB, KRI WIR mendapatkan kontak KIA (kapal ikan asing) di Pos 4 nm (nautical mile) masuk ZEEI. Tiba-tiba 2 KIA melaksanakan penggelapan, tapi siluet terlihat dan haluannya mengarah ke haluan KRI pada jarak 30 meter sehingga diberikan 1 butir tembakan peringatan ke udara menggunakan SS-1," ujar Kadispenal Laksamana Pertama Gig Jonias Mozes Sipasulta dalam keterangannya, Senin (24/7/2017).

"Selanjutnya KIA Vietnam mengubah haluan dan KRI WIR melaksanakan pengusiran KIA untuk meninggalkan wilayah ZEEI," sambungnya.

Vietnam mengklaim empat orang terluka akibat tembakan tersebut. Peristiwa terjadi di Laut Natuna Utara. TNI AL mengatakan hanya melakukan tembakan peringatan ke udara.

"Dengan demikian, tidak benar pernyataan Vietnam tersebut. TNI AL selalu melakukan tindakan sesuai ketentuan dan terukur," kata Gig.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa terjadi pada hari Sabtu (22/7) waktu setempat. Vietnam menyatakan nelayan tersebut berada sekitar 132 mil laut tenggara Pulau Con Dao. Otoritas Vietnam mengklaim nelayan yang tertembak dibawa ke Pulau Con Dao untuk menjalani perawatan. (dkp/rvk)

  detik  

Senin, 24 Juli 2017

Pertahanan Negara Kita Tak Bisa Lagi Jawa-sentris

Pembekalan Capaja Presiden Jokowi di sela-sela acara pemberianpembekalan kepada Calon Perwira Remaja (Capaja) Akademi TNI dan Polri Tahun 2017 di Gelanggang Olahraga (GOR) Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta

P
residen Jokowi mengingatkan soal perubahan yang harus segera diantisipasi oleh semua pihak, termasuk TNI dan Polri. Perubahan yang ada tak hanya soal ekonomi, politik, dan teknologi semata, tapi juga ancaman yang dihadapi negara.

Itu disampaikan Presiden Jokowi memberikan pembekalan kepada Calon Perwira Remaja (Capaja) Akademi TNI dan Polri Tahun 2017 di Gelanggang Olahraga (GOR) Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Senin (24/7) sore.

Oleh karena itu, para Capaja harus bisa berpikir strategis dalam mengantisipasi segala bentuk ancaman yang juga akan mengalami perubahan di masa mendatang,” terang Jokowi.

Terutama pertahanan negara kita tidak lagi bisa Jawa-sentris, harus diubah semua menjadi Indonesia-sentris. Implementasinya seperti apa? Ini yang harus disiapkan dan direncanakan. Kalau tidak ya kita akan ditinggal,” ucap presiden.

Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, memberikan pembekalan kepada 729 Calon Perwira Remaja (Capaja) TNI-Polri 2017.

Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, memberikan pembekalan kepada 729 Calon Perwira Remaja (Capaja) TNI-Polri 2017.

Selain itu, lanjut mantan gubernur DKI ini, TNI dan Polri juga harus mengubah pola pikir dalam menghadapi perubahan bentuk-bentuk ancaman tersebut. Sebab, menurut Presiden, bisa saja di masa yang akan datang perang bukan lagi serupa dengan perang konvensional yang selama ini dikenal.

Apakah diperlukan misalnya untuk ancaman-ancaman yang ada seperti ”cyber security” dan “drone” yang paling canggih untuk memantau perbatasan kita?” tanya Jokowi.

Capaja TNI dan Polri juga disebut Presiden harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat, yang ke depannya akan didominasi oleh generasi muda. Mereka juga harus mampu melindungi masyarakat dari ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bisa lewat Facebook, atau membuat vlog, Instagram, Twitter. Cara menyampaikannya sekarang sudah lewat itu (media sosial),” ujar Jokowi menambahkan.

Terakhir, Presiden berharap Capaja Akademi TNI dan Polri Tahun 2017 dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik sehingga memberikan manfaat nyata bagi keluarga, bangsa, dan negara.

Saya berpesan kalian harus terus menjadi kebanggaan orang tua, keluarga, dan negara kita, Indonesia. Jadilah perwira-perwira yang dicintai seluruh rakyat Indonesia,” Jokowi menegaskan. (Johara/win)

  Poskota  

Pangarmatim Lepas KRI Usman Harun 359 Ke Lebanon

Untuk Misi Perdamaian Sejumlah prajurit TNI AL yang tergabung dalam Satgas Maritime Task Force TNI kontingen Garuda XXVIII-J-UNIFIL (United Nation Interm Force In Lebanon) 2017 melakukan haka-haka di geladak KRI Usman Harun-359 ketika akan berangkat di Dermaga Ujung, Koarmatim, Surabaya, Jawa Timur, Senin (24/7/2017). Sebanyak 110 prajurit TNI AL terpilih sebagai satgas perdamaian yang mengemban misi perdamaian dunia, yang akan bergabung dengan kapal perang angkatan laut negara lain yang tergabung dalam gugus tugas MTF. (ANTARA /M Risyal Hidayat)

K
apal Perang Republik Indonesia (KRI) Usman Harun – 359 Jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim di percaya menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon yang tergabung dalam Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-J/UNIFIL tahun 2017 atau Maritime Task Force (MTF) in Lebanon XXVIII-J/UNIFIL diberangkatkan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H., M.A.P., di dampingi Ketua Daerah Jalasenastri Armada Timur (KDJAT) Ny. Ina Darwanto, bertempat di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya. Senin, (24/07/2017).

Misi perdamaian dunia ke Lebanon yang ke-10 kalinya tersebut, TNI Angkatan Laut kali ini mengirimkan Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-J/UNIFIL KRI Usman Harun-359 dengan Komandan KRI Kolonel Laut (P) Alan Dahlan, S.T., untuk menggantikan KRI Bung Tomo-347 dengan Komandan KRI Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo yang saat ini masih menjalakan tugas MTF XXVIII-I/UNIFIL sejak tahun 2016.

Sebelum acara pelepasan, Pangarmatim memberikan beberapa penekanan kepada seluruh anggota Satgas agar selalu melaksanakan perawatan kapal dan perhatikan selalu kebersihan kapal. “Misi perdamaian PBB, para prajurit merupakan perwakilan Negara di dunia Internasional dan akan bekerja sama dengan berbagai Negara. Untuk itu, tampilkan yang terbaik dengan cara memahami dan melaksanakan tugas dengan baik sesuai mandat PBB, jaga nama baik Bangsa Indonesia dengan tidak melakukan pelanggaran sekecil apapun. Pahami dan pelajari kebiasaan dalam pergaulan Internasional serta kebiasaan masyarakat setempat guna memperlancar keberhasilan tugas”, pesan Pangarmatim.

Menurut Komandan KRI Usman Harun-359 Kolonel Laut (P) Alan Dahlan selaku Komandan Satgas MTF XXVIII-J/UNIFIL yang sempat berpamitan bersama istri dan putranya mengatakan bahwa, KRI Usman Harun-359 akan mengemban misi perdamaian PBB di Lebanon selama enam bulan dan perjalanan laut selama dua bulan pulang pergi. Dalam pelayaran ke Lebanon, KRI yang merupakan Kapal Perang kelas Multi Role Light Frigate (MRLF) kedua setelah KRI Bung Tomo akan singgah di Jakarta untuk melaksanakan upacara pelepasan Satgas oleh Panglima TNI.

Turut hadir dalam pemberangkatan Satgas MTF 2017 antara lain, Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama (Laksma) TNI I.N.G. Ariawan, S.E., M.M., beserta Wakil Ketua Daerah Jalasenastri Armatim Ny. Ariawan, Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Danguskamlatim) Lakma TNI I.N.G. Sudihartawan, S.Pi., beserta Ibu, Komandan Satkor Koarmatim Kolonel Laut (P) Agus Hariadi, para Komandan Satuan dan Kasatker, Ibu-ibu Jalasenastri Armatim serta keluarga dari para prajurit Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-J/UNIFIL. (Dispenarmatim)

  TNI AL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...