Senin, 25 September 2017

Rincian Alutsista yang Dibeli dari Utang

https://1.bp.blogspot.com/-bcXQpjiPkEk/Wckb-nb1JOI/AAAAAAAA1uE/ez3J8sxLMEYU9pe45oiS9S_ls00L5i-TQCLcBGAs/s1600/Type-214-02-692x355.pngKapal selam Type 214 [defence.pk]

Pemerintah dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2018 telah menyediakan porsi penarikan pinjaman atau utang, untuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi Kementerian Pertahanan, dan alat material khusus (alumatsus) untuk Kepolisian Republik Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan sumber utang tersebut berasal dari luar negeri dan dalam negeri.

"Ya kan ada yang alatnya dari luar dan dari dalam," kata Suahasil di Ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Dalam RAPBN 2018, pinjaman luar negeri negatif Rp 18,6 triliun, artinya pemerintah lebih besar membayar pokok pinjaman dibanding menarik pinjaman baru. Tahun depan, pemerintah akan melakukan penarikan pinjaman Rp 51,5 triliun dengan pembayaran cicilan Rp 70,1 triliun.

Penarikan pinjaman ini terdiri dari pinjaman tunai Rp 13,5 triliun, dan pinjaman proyek Rp 38,0 triliun. Pinjaman proyek ini dari pemerintah pusat Rp 27,2 triliun, diterushibahkan Rp 0,2 triliun, dan diteruspinjamkan Rp 10,6 triliun.

Dari pinjaman luar negeri tersebut, terdapat lima kementerian/lembaga terbesar pengguna utang luar negeri dengan total alokasi lebih dari 90%, antara lain seperti Kementerian Pertahanan Rp 11,7 triliun untuk alutsista, dan Kepolisian sebesar Rp 3,3 untuk alumatsus.

"Kalau beli dari luar kan buka L/C (letter of credit), bentuknya pinjaman. Kalau yang dari dalam, kan ada juga yang dari dalam, itu financing-nya dari bank lokal," jelas dia.

 Alutsista yang dibeli 

Utang luar negeri Rp 11,7 triliun untuk alutsista ini antara lain, Kapal PKR, ASW Helikopter, Korvet, Kapal Selam, Roket, pesawat Multipurpose Amphibious, rantis khusus Armed AVRMD dan AVFCU, radar GCI, dan Kapal Mine Counter Measure.

Sedangkan Rp 3,3 triliun untuk alumatsus yakni helikopter, labfor Mabes Polri, peralatan service, siskom di Indonesia bagian Timur yakni Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Sedangkan pinjaman untuk pembelian alutsista dan alumatsus yang berasal dari dalam negeri sebesar negatif Rp 3,1 triliun, karena pemerintah melakukan penarikan pinjaman Rp 4,5 triliun dan melakukan pembayaran cicilan Rp 1,4 triliun.

Penarikan pinjaman yang totalnya Rp 4,5 triliun ini, sekitar Rp 3,5 triliun difokuskan oleh Kementerian Pertahanan untuk membiayai alutsista dan alumatsus yang diproduksi industri pertahanan dalam negeri. Sedangkan untuk Kepolisian Rp 1 triliun, pemberi pinjaman dalam negeri adalah Bank BUMN dan BUMD.

  detik  

Laos Tertarik Beli Lagi Senjata Buatan PT Pindad

http://3.bp.blogspot.com/-rxnCHYvSNN8/VecVFQT4JlI/AAAAAAAACJE/v6T360c7epM/s1600/SPR-2.jpgIlustrasi

Kementerian Pertahanan Laos menyampaikan ketertarikan mereka untuk kembali membeli produk-produk senjata PT Pindad, kata Wakil Presiden Expor PT Pindad Ridi Djajakusuma.

Kami melakukan presentasi di depan Kementerian Pertahanan Laos untuk kembali memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk Pindad. Mereka sangat tertarik untuk kembali membeli produk senjata Pindad. Yang sangat mereka incar itu short riffle dan amunisi,” kayanya di Vientiane.

PT Pindad merupakan salah satu perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam Trade and Tourism Fair 2017 yang diselenggarakan KBRI di Vientiane guna memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Laos.

Menurut Ridi, hubungan kerja sama militer antara Indonesia dan Laos memang cukup erat.

Kementerian Pertahanan Laos sejak 2014 sudah membeli produk-produk senjata PT Pindad, meliputi 60 pistol G2 Combat, 35 SS1 V2, 35 SS1 V4, serta amunisi.

Pada pertemuan dengan Kementerian Pertahanan Laos tanggal 21 September kemarin mereka menyatakan tertarik membeli Pistol G2 Elite dan senjata Sniper buatan Pindad SPR 2 dan amunisi,” ungkap Ridi.

Perdana Menteri Laos pada Oktober tahun ini akan berkunjung ke Indonesia dan bertandang ke PT Pindad.

Sebanyak 27 tentara Laos saat ini sedang mengikuti pelatihan di Indonesia. Mereka mendapat pelatihan dari Grup 1 Kopassus untuk persiapan “The ASEAN Armies Rifle Meet” (AARM) 2017 di Singapura.

Mereka senang produk Pindad karena sejak membeli dan menggunakan produk Pindad mereka pernah jadi juara ke-3 di ARRM di Thailand,” ujar Ridi.

  Antara  

KRI Usman Harun-359 TNI AL Tiba di Beirut

KRI Usman Harun-359 Tiba di BeirutSabtu (23/09) pagi, KRI Usman Harun-359 tiba di Pelabuhan Beirut Lebanon disambut oleh Duta Besar RI di Beirut, Achmad Chozin Chumaidy, beserta jajaran staf KBRI Beirut dan anggota Satgas Garuda-UNIFIL.

Prosesi penyambutan dilakukan dengan pengalungan bunga oleh Duta Besar RI kepada Komandan KRI Usman Harun-359, Kolonel Alan Dahlan, sesaat setelah KRI bersandar.

Dalam sambutannya pada saat upacara penyambutan, Duta Besar RI menyampaikan bahwa Lebanon bagi bangsa dan masyarakat Indonesia adalah sahabat lama.

Pada tahun 1947 Lebanon menjadi negara ke-3 yang mengakui dan mendukung kemerdekaan RI.

Lebanon juga merupakan negara yang aktif memberikan dukungan kepada Indonesia dalam memperjuangkan politik luar negeri Indonesia di forum-forum internasional.

Sehingga sudah sepantasnya jika Pemerintah RI memberikan dukungan atas keamanan dan perdamaian di Lebanon.

Di depan 100 prajurit TNI AL tersebut Duta Besar berpesan, “Banggalah sebagai Prajurit TNI AL, jaga dan kibarkan merah putih dimanapun saudara berada, jaga dan sematkan Garuda di dada kita. Tunjukkan kepada Dunia bahwa kita adalah yang terbaik dan senantiasa siap menjaga perdamaian dunia.” Duta Besar RI juga menegaskan bahwa menjadi bagian dari UNIFIL adalah bentuk kepercayaan dan penghormatan negara kepada KRI Usman Harun.

Saat ini ada 10 misi Pemelihara Perdamaian PBB yang dikirim Pemerintah Indonesia di beberapa negara di Dunia.

Dari 10 misi tersebut hanya di Lebanonlah Pemerintah Indonesia mengirimkan kapal perangnya.

Berdasarkan keterangan dari Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Beirut, Imad Yousri, Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Usman Harun – 359 Jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim diberikan kepercayaan untuk menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon yang tergabung dalam Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-J/UNIFIL tahun 2017 atau Maritime Task Force (MTF) in Lebanon XXVIII-J/UNIFIL.

Misi ini diberangkatkan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto dari Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya pada 24/07/2017.

Kedatangan KRI Usman Harun ini dalam rangka untuk menggantikan KRI Bung Tomo-347 dengan Komandan KRI Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo yang menjalakan tugas MTF XXVIII-I/UNIFIL lebih dari setahun yang lalu.

Secara keseluruhan, saat ini Kontingen Garuda yang bertugas dalam UNIFIL berjumlah 1296 personel dan merupakan unsur terbesar dari keseluruhan tentara UNIFIL yang berjumlah 10441 personel yang berasal dari 41 negara.

  RRI  

Minggu, 24 September 2017

[Video] Dukung PT Pindad, Menhan Tinjau Produksi Medium Tank

Liputan AntaraTVPT Pindad kini tengah meproduksi turret medium tank, yang dikerjasamakan Pindad dengan Turki. untuk melihat progresnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pun meninjau progres pembuatannya kemarin. Sebagai bentuk dukungan pemerintah atas hasil karya anak bangsa di bidang Alutsista.


Kedatangan Hull Kaplan Medium Tank di Jakarta

  Youtube  

[Video] Senjata Buatan Anak Bangsa, Tidak kalah Dengan Produk Asing

Liputan CNN Di bidang persenjataan, ada fenomena menarik yang tumbuh sejak 10 tahun terakhir, yaitu bermunculan perusahaan swasta yang memproduksi senjata, seperti bom, panser hingga senapan serbu.

Bahkan kualitas produk mereka pun tidak kalah dengan produksi asing, atau BUMN Industri Pertahanan.


  Youtube  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...